Yang tak Lekang Oleh Waktu

By ; Daniel Siboro

Pada relug hati yang kuletakkan jauh dalam belantara tersembunyi 

raga ini kembali terhempas rindu bersama sunyi
 

Tenggelam dalam senja yang kian menepi

berpacu dalam angan yang remang dan kenyataan yang tak mungkin bisa kugapai lagi

disini aku menahan perih berharap bisa menembus masa memulai yang pernah selesai

menanti dia yang pernah pergi dan menerka luka di setiap jejak yang kian menjebak

atau berharap semua hanyalah mimpi yang menabur benih rasa sakit yang pedih
 

memupuk denyut kecewa yang menciderai rasa

lupa , ntah berapa kali aku mengulang hal yang sama

menikmati rasa sakit diantara bait bait puisi

hanyut dalam kesepian dan rapuh dalam ingatan yang tak lagi butuh penantian

Kini aku sadari,

 kesepian adalah tempat untuk melepas kepergian

dan kerinduan adalah ruang untuk mengucap doa peraduan

aku akan menari bersama senja

dan  bayangmu sirna bersama jingga



INGIN KEMBALI

foto nostalgia siboro family

Ada satu hal yang membuatku ingin menjalin kembali masa yang lepas

Bilamana jiwa dan hati merajut rindu yang tak bertepi

Dan kutanya dimana kau tergelebar wahai puing puing peristiwa!!!!


Saat mataku tertuju pada selaur foto nostalgia
Saat itu aku berusaha menggapainya dalam angan dan ingatan
Kutemukan sejuta kisah bersama kasih yang tak kunjung memudar

Biarlah peluru peluru kisah itu menikam dengan suka suka
Saat senja di panongan membentuk ruang ruang rindu dalam bentaian pilu
Saat rindu dan aksaraku menuntunku untuk menbuat sajak pilu ,

Waktu itu kupahatkan pada senja kisah yang terbalut rindu
Waktu mulai memudar ditelan oleh kelapnya malam ,
Senja itupun berubah menjadi gelap
Rindu itu telah kembali dan kubisikkan pada angin malam apa kabar  wahai engkau yang ada bersamaku dalam kenangan.
Ada rindu yang seakan ingin kembali kemasa lalu bersama suka dan tawa
yang selalu menawan rasa!!!


Tangerang,9 april 2020

Daniel siboro

Suara Hati

Oleh : Daniel Siboro

Melintas dalam lika liku jalan
Letih menanti jawaban yang lekang oleh kepastian
Inilah suara hati mereka
Orang orang tanpa lelah yang resah,
mengucap serapah,,,,

Katanya ,
Kami adalah orang orang yang hidup menjajaki trotoar jalan
Materi menjadi Harga mati kehidupan
Terbunuh oleh keadaan atau terkapar dengan sejuta pejuangan
Apakah kami harus bersilang kaki menunggu senja tenggelam
Dihimpit gedung gedung tinggi dan pintu besi
Menikmati tawa yang mengindikasikan kebal dengan keadaan
intrik, politik menjadi alat mereka memanipulasi kepercayaan

Kami adalah orang orang terpinggirkan
Kami tak menginginkan belas kasihan
Kami hanya menuntut keadilan ……….

Kami adalah orang orang terpinggirkan
Kami tak menginginkan belas kasihan
Kami hanya menuntut keadilan…………


Rindu yang tak berterima

Kasihku..

Malam yang bisu ini membiarkan ku sendiri

Larut dalam tanyaku yang alfa

Rindu yang meragu

Apakah pundak tempat kepalamu bersandar kemarin sore adalah aku

Peluk hangatmu apakah buatku

Kasihku

Malam yang bisu ini sungguh menyusahkanku

Haruskah aku bahagia lagi pada senyummu yang paling ku kagumi

Kala rengek manjamu berhasil ku hiburkan

Setelah ku tau kamu bukanlah milikku

Sungguh ku ingin kau bahagia kasih

Walau ku tau cintamu pada dia yang dulu

Terlalu dalam untuk ku sentuh

Aku tak akan menuntut lagi membunuh rasa di dadamu

Kalau rindu tak berterima

Ku ikhlas beri pundakku

Walau hatimu bukanlah untukku

Dimanakah Letak Hatimu

Sedih

Dimanakah Letak Hatimu

Kepada ‘Y’ (2018)

Dimanakah letak hatimu

Duhai yang tak bermahkota tak ternama

Aku ingin membunuhmu seketika

Terlalu sakit virus rindu yang kau sebarkan

menjerat ku ke ujung tanduk tak berpengharapan

Dimanakah letak hatimu

Duhai yang kuingin serupa surga

Segala telah membiru, ku lupa dahaga menyiksa

Dan kini langkah kaki terbenam dalam lumpur , aku lumpuh kaku.

Kau siram juga dengan semen dengan batu.

Dimanakah letak hatimu

Duhai yang ku rindu

Bibir ku tak mampu berucap “aku cinta”

Namun hanya satu yang ku pinta

Aku ingin meneggelamkanmu dalam pelukku
Hingga menyatu, Membeku.

Dimanakah letak hatimu

Duhai..’Y’
Tak taukah kau aku sangat merindu.

Sekali ku dapat takkan ku melepasmu.

Dari persembunyian

Bagaimana mungkin aku mengatakannya,”tak usah kau ragu akan kata yang tak terungkapkan!”

Karena memang tak pantas untuk dipercaya,kau akan merana

Sebab bagaimana memupuk bunga tapi takut kena pupuknya.

Begitulah yang kurasa

Menghibur diri,dengan kata bahwa sesuatu yang terlalu dalam sulit untuk dinyatakan dalam angka-angka

Itu adalah tanda ke tidak sungguhan

Kini aku tak tau lagi bagaimana harus berkata

Bahagia menatapmu atau gelisah merindumu adalah kebingungan dalam pikirku

Bagaimana pun juga,takkan ku lupa letak titik-titik pada sketsa wajah mu

Sudah kuhapal betul,setidaknya itu yang ku punya

Mungkin besok akan ku perhatikan lagi,apakah ada bertambah tahi lalat mu?

Dari persembunyian,aku selalu mendoakan kebahagiaanmu

Kepadamu Tuhan

Akulah tanah liatmu ya Tuhan

Kaulah penciptaku

Kaulah pembentukku

Apakah aku layak bertanya…?

Mengapa aku kau jadikan periuk atau toilet tempat pembuangan tinja…?

Apakah aku Kau buat untuk di pecahkan,atau untuk cawan minuman Raja…?

Itu terserahmu ya Tuhan dan aku akan menyenangi dan menikmatinya.

Satu hal yang ku percaya,engkau mencintaiku dan sangat memperhatikanku,sehingga aku layak mengenal Mu. Dan aku Kau ijinkan menjadi anakmu,menjadi tebusan Mu.

Mauliate ma diHo ale Tuhan.